Perayaan Cinta, Sepenuh Doa

Kiranya hati bisa di dengar, yang tak tahu tempat berbicara mengadu-ngadu pada Tuhan. Niscaya bisinglah telingamu. Tapi layaknya benda yang kasat, hati hanya menempati kata-kata yang tidak bisa kita dengar. Seperti ketulusan itu Mus, selekat apa aku paparkan lewat kata-kata. Hingga busa seluruh kalimat ku lontarkan. Ia akan hanya menjadi sekelebat bayang-bayang yang tak sampai di pandangmu.

ketulusan itu, semesti, walau dalam diam paling hening, akan sampai ke hati jua bukan?

Maka, hatimu itu Mus. Apakah di sana kau simpan ketulusan yang tak hingga? Ia sebegitu hangat sampai ke hatiku, begitu lembut menyentuh rasaku. Tahu-tahu hatiku sedetikpun tak ingin berpaling.

Di enam waktu ini Mus, jika saja pernah terbesit tentang lelahku. Biarlah dinding-dinding waktu menjadi saksi, hatiku sekalipun tak pernah bergeser di titik ini. Lalu bagaimana mungkin aku akan menyerah hanya karena di abaikanmu?

***
Dan lagi merayakan cinta sendiri saja, berpesta pora dengan doa yang begitu bising. Memintamu, meminta kebahagiaan kita, meminta kebaikan untukmu. Meminta cinta yang di ridhoiNya. Meminta keberkahan untuk semua pinta.

17March, Longlast and happyending. Aaamiin,

Iklan

5 pemikiran pada “Perayaan Cinta, Sepenuh Doa

  1. ( jika saja pernah terbesit tentang lelahku. Biarlah dinding-dinding waktu menjadi saksi, hatiku sekalipun tak pernah bergeser di titik ini. Lalu bagaimana mungkin aku akan menyerah hanya karena di abaikanmu?) keren kata-kata ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s