Kepada Hatimu, Rumah Terhangat

Karena hati itu tidak selalu tetap. Sedari waktu ku jumpai hatimu yang serupa rumah hangat. Tak pernah lagi ada kutemui hati yang serumah hatimu, gemerlap kemewahan dari istana mungkin melenakan mata. Tetapi hati yang telah ber-rumah biar ditawar seribu istana, baginya ketenangan telah di letak pada hangatnya rumah.

Hati bisa berubah. Tapi, tidak, untuk hati yang tulus. Itulah mengapa cinta selalu mengalir bersama dengan air mata. Aku pun.

Aku, meski tak bisa kau percayai, hatiku tak cukup bisa menyakinkanmu, aku masih tetap menunggumu. Mencintaimu, mungkin aku tak sebaik seseorang yang pernah mencintaimu, mungkin hatiku juga tidak bisa menjadikanku rumahmu yang hangat. Sehingga aku pernah mencoba abaikan rinduku, tahu-tahu basah air mata mendahului rasa sakit merindumu.

Mungkin aku tak begitu baik mecintamu, tapi hatiku akan selalu jadi rumah untukmu, di kapanpun, di hingga lelahmu.

#30HariMenulisSuratCinta #Day5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s