Pelajaran Mencintai

Sebuah pelajaran cinta, semoga menjadi hikmah untukku dan untuk yang membacanya. [catatan dari grup magic class ku]

***

10tahun silam aku dibangunkan ummiku yg kaget menerima berita duka. Seorang ibu tua yg kami panggil “Mbah Putri” wafat.  Aku segera bergegas bersama Abuya, Ummi jg adik-adikku kesana. Takziah.

Ada yg aneh, takjub sekaligus duka. Rumah yg sudah ramai para tetangga, tertata rapi. Karpet tergelar, jenazah telah diselimuti kain panjang dibalik kelambu hijau.

Mataku melirik kedalam, meja besar telah bertumpuk piring-piring bersih, sedok-sendok, nasi baskom besar, kare ayam tahu sepanci besar beserta lauknya.

Putrinya menceritakan jika semua yg tertata dimeja telah disiapkan Mbah Putri tadi pagi. MasyaAllah! Mbah Putri telah menyiapkan kematian yg super indah.

3hari sebelumnya, sesudah belanja banyak-banyak, semua piring-piring dicuci, lalu ditata dimeja. Anak-anaknya bingung, kenapa saat pagi Mbah Putri masak banyak-banyak.

“Besok bakal banyak tamu, berilah suguhan ini untuk menghormati”.

Maghrib Mbah Putri panas, namun masih melaksanakan shalat. Saat Isya’, tubuhnya gemetar panas, beliau minta mandi besar, beliau mandi besar & berwudhu dan dengan gemetar shalat Isya’ hingga akhirnya wafat.

Rumah sudah beliau bersihkan, masakan sekian banyak sudah terhidang panas-panas, baju-baju untuk cucunya sudah disiapkan, minta maaf kesana kemari sudah dilakukan.

Allahu Akbar ! Husnul Khatimah, insyaAllah. Malam jum’at pula.

Tersentak aku bahkan terus teringat akan beliau. Kok dahsyat bisa menata saat kembali dengan indah.Seorang Bu Nyai bukan, Ustadzah pun bukan. Tutup aurat asal. Baca qur’an mungkin kesulitan. Tapi shalat.

Beliau punya amalan luarbiasa semasa hidupnya. Sanggup MENCINTAI suaminya hingga luka tak dirasakan luka. Semasa hidupnya, ditinggal nikah tidak hanya sekali. Tau-tau suaminya nikah lagi. Bini baru hamil lalu lahiran – yg mengurus istri tua. Eee .. Nikah lagi, ceritanya sama.

Marah kah ? Geramkah ? Beliau anaknya banyak. Semua dikerjakan sendiri tanpa pembantu. Tau-tau suami nikah lagi dan lagi, dirinya pula yg disuruh mengurus. Sungguh, diwajahnya selalu tawa riang, hatinya sumeleh, pasrahnya pada Gusti Allah luarbiasa! Dimarahi suami, beliau diam, & sibuk merebut hati suaminya agar tak marah.

Ternyata, mencintai hingga terluka & tak dapat merasakan luka lagi lah yang menjadikan beliau teramat istimewa. Tuhan pun beri hadiah indah.
Husnul khatimah. Sepanjang hidupnya selalu tersenyum sesusah apapun.

Sore ini aku tiba-tiba teringat,
Karena tak berani menjawab pertanyaan ibu-ibu cantik digrup mengenai per suami istri-an.

Mungkin ini bisa jadi hiburan, pelajaran. Cinta bukanlah sekedar perasaan, keinginan, atau pikiran.

Cinta adalah sebuah ketrampilan.
Yang mengajarkan : bagaimana memaafkan, mengampuni dan mencintai orang-orang yang pernah melukai kita. Mencintai orang yang “tidak pantas’ lagi dicintai. Membantu lepas dari kepahitan dan kemarahan yang membelenggu.

Mencinta hingga terluka & tak terasa luka mengajarkan bahwa cinta sejati adalah cinta yang dihidupkan dan dimiliki lewat berbagai ujian.

Mencinta hingga terluka & tak terasa luka menyadarkan hanya Allah swt Pemilik Cinta yang Agung. Saat kita berani tulus mencintai karena Allah lah, cinta sejati terjadi.

Cinta sejati justru diuji oleh peristiwa dan orang, yang menaburkan hal-hal yang bertentangan dengan cinta itu sendiri. Untuk memurnikan CINTA HAKIKI hanya pada Ilahi.

Terkadang kita harus mengalami hal yang menyesakkan hati, luka jiwa dan beban yang semestinya tidak kita tanggung : perlakuan semena-mena dari pasangan, membesarkan anak bandel, mendampingi seorang suami yang penjudi, menjadi guru seorang anak yang berjiwa pemberontak, dan sebagainya. Namun, tetaplah bertahan jika memang kita harus melalui jalan demikian.

Allah inginkan kita meletakkan dan mengantungkan cinta tak terkotori untuk siapapun – murni untukNya.

So, berani mencintai pasangan apapun juga kondisinya ? Berani mencintai anak kita apapun model moreka ???

aspek cinta : cinta itu sabar, cinta memaafkan, cinta itu tangguh, cinta itu keras, cinta itu berkorban dan cinta itu memulihkan. Cinta itu membutuhkan latihan, ujian cinta juga membutuhkan model dan pembelajaran yang konsisten. Dalam mencinta yang penting bukanlah hasil, tetapi prosesnya.

Keberhasilan cinta tidak ditentukan oleh sang pemberi maupun si penerima cinta; bukan juga pada harapan-harapan yang terkabul. Memberikan dengan cinta juga dilakukan tanpa henti oleh sang Maha Cinta pada hambaNya.

Mencinta tanpa terluka hanyalah cinta imitasi, adopsi atau teori.

Selamat mencinta, HINGGA TERLUKA HINGGA TAK TERASA LUKA.

****

Apalah LUKA itu, bukanlah apa-apa dari diberi anugrah bahagianya perasaan MENCINTAI :’)

Iklan

7 pemikiran pada “Pelajaran Mencintai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s