Memital kemudian Mengurai

Ini seperti perjalanan cinta yang dipital sendiri, lalu diurai kemudian. Berulang terus menerus, demi mendapatkan pitalan yang benar-benar membawanya pada titik temu. Orang yang melakukan hal itu adalah orang yang sama. Aku

***

Berjalan sendiri, berjuang sendiri adalah caraku memandang apa yang terjadi di antara kita. Cara ini bisa menjadi 100% pandangan yang salah, karena apa-apa yang dilihat mata tidak selalu adalah kebenaran.

Aku tak tahu di sana, justru engkaulah yang berjuang banyak. Melakukan hal rumit dari sekedar aku yang merasa begitu berjuang mencintaimu. Karena mana tahu, di sana telah kau kumpul semua alasan untuk mencoba mencintaiku, yang bahkan begitu kasat di matamu. Ataukah jika tidak, kau dengan segala kerumitan yang ada berusaha mencari cela menolakku tanpa melukaiku. Bagaimana tak kusebut itu sebagai usaha yang lebih, sedang kehadiranku di hidupmu bukanlah maumu — engkau harus mengatasi sesuatu yang di luar inginmu

Maka jika saja, langkahku telah membuatmu tak nyaman. Maukah engkau memaafkanku? Karena selama bisa kulihat jalan ke arahmu, langkahku masih saja di langkahmu.

Ataukah jika mungkin, inginkah engkau melangkah bersamaku. Mencintaiku?

***
Ku pital cinta dengan kepercayaan bahwa hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha dan doa. Namun di lain waktu kembali ku urai karena rasa tak percaya pada diri sendiri :'(

Bagaimana mencintai perempuan semacam ini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s