Kemana Binar Itu

Kemana kelabu gerimis rindu mesti ku palungkan. Rindu yang hendak puan utarakan jatuh tak telak melukai luka tak bernama.

Tuan, sudahkah kau senti kali sekian jarak hatimu yang rentang pada pelukku yang penuh abai? Aku sering menyambangi rumahmu, membiaskan diriku pada cela-cela hatimu. Sering ku temui namaku, tapi kemudian hilang tak menyisakan pesan kau akan mengembalikannya lagi.

Mengingat waktu yang sudah memutar banyak cerita, tak meninggalkan kesan, tak meninggalkan pesan. Tapi detak jantung tetap saja mahir mengisyarat cinta.

Tuan, ajarkan pada hatiku, bagaimana memaki diri sendiri. Menampar rasa malu agar menyadar sedikit pada logika yang kau fikir telah tumpul di kepalaku.

Tuan, tunjukan padaku. Di mana letak salah hati telah mencintaimu? Karena rindukah yang tumpah menggelikanmu atau cemburu yang tak masuk di akalmu? Atau luka mana yang telah mempermainkan perasaanmu?

Hingga hilang kemana binar harapanku di rasamu? Dulu tak pernah barang sewaktu lepas rinduku kau balas, tak ada canggung memerihkan mataku. Kerap tak selang berapa waktu kau berkabar tanpa ku pinta.

Hilang kemana binar harapanku di rasamu? Yang pernah dengan penuh bahagia berbagi segala rasa padaku. Dan kini, yang kulihat dinginnya percakapan kita membekukan alir darahku.

Maka kepalaku tentu menyimpan juta tanya selepas itu. Berharap semua yang ku temui akan memberiku jawaban. Pada matahari yang panas memerihkan, sekiranya ia berbicara padaku atau jalan-jalan yang ku susuri setiap hari, ataukah bila tidak pada benda-benda yang menyaksikan air mata yang ku tumpah. Dinding-dinding, lemari, bantal dan jam dinding yang tak henti mendetik. Aku ingin mendengarnya agar tidak lagi salah sangkaku. Tidak juga patah hatiku.

Tuan, bagaimana jika yang melukaimu bukanlah karena aku mencintaimu dengan keterlaluanku? Bagaimana jika sekat yang kau buat antara hatimu dan hatiku bukanlah karena aku selalu ingin kau ada?

Bagaimana jika semua itu karena kau merasa aku tak mempercayaimu lantar cemburuku?

Andai kau tahu, bagaimana rasanya cinta tanpa kepastian. Kau akan mengerti, bagaimana hati sering mengira-ngira. Atau jika boleh sebentar saja rasakan hatiku.

Tuan, dalam jauhnya hatimu. Aku hanya bisa tenggelam tanpa pernah tahu apa yang menenggelamkanku. Aku hanya bisa hidup dengan menyalahkan diriku sendiri. Tentang aku tetap di sana saat sunyimu semakin senyap.

Maafkan aku
Karena cinta bahkan tak punya cela untuk membuatku berhenti..

Iklan

3 pemikiran pada “Kemana Binar Itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s