Aku dan Penantian

Ada banyak nasehat, yang bisa jadi merupakan sebuah pinta. Seperti di suatu waktu – ada yang mempertanyakan perihal senyap yang kurebahkan di punggung penantianku.
Pada yang jatuh cinta. Kerap, petuah serupa buih tak habis detik, ia kembali menjadi laut
– abaikan mereka

Pada temu-temu, ada banyak tanya yang bising menanyakan hatiku – aku tersenyum. Bila saja hati memiliki ribuan pintu-pintu cinta, pada tiap masing orang ada satu pintu yang hanya satu seorang saja yang melewatinya.
Pernah kau memilikinya?
– coba, jatuh cintalah

Maka kepadaku, cukup kalian genggam dan bisikkanku saja agar tiada pernah lelah. Karena menunggu bagiku adalah perjalanan di atas rel. Tak mungkin bisa berpindah, terus berjalan di satu pemberhentian.
Tak perlu melontar cibir untuk laku ini, mencintai bukan menjadikan bodoh
– ada ke-akuan-ku yang ku bijakkan di sana

Tak bermaksud membuat skenario semau kepalaku. Tetapi bukankah Tuhan sendiri yang meminta- berlakulah, berdoalah?
Hingga nanti sampai di batas, dua kakinya tak lagi berjalan padaku dan dua lengannya telah memeluk cinta yang lain
– aku akan menunggunya

Iklan

3 pemikiran pada “Aku dan Penantian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s