“Don’t Leave Me…”

Kini punggungmu benar-benar semakin menjauh, sesisa titik yang lambat laun makin menghilang. Iya, aku masih mengekori kepergianmu, mencari bayangmu di segala lini yang bila mungkin bisa mengobati sedikit saja pedih rinduku ~

Masih sama, seperti dulu ketika kau pergi. Aku tak tahu hal apa yang bisa menahanmu untuk tetap tinggal di hidupku, yang aku tahu hidupmu tidak lagi ku bebani. Dulu, hal yang kupercaya bahwa di suatu waktu nanti kau benar-benar akan mencintaiku, entah bila pun kita harus menghabiskan waktu ribuan tahun. Namun belum beberapa tahun berlalu, hal yang abu-abu itu tlah kau pertegaskan untukku. Saat itu, kuharap kau akan mengatakan kau mencintaiku, ataukah setidaknya mengatakan mari kita terus berusaha saling jatuhcinta atau hal-hal semacam tak menyerah. Tetapi, disejak dulu kebenarannya bahwa aku hanya hidup dalam angan-angan di kepalaku belaka, tak hanya tak dicintaimu, bahkan nyaman sebagai kekasihku senyatanya telah meletihkanmu — aku tak lebih dari sekedar teman. Ah, dan ribuan tahun yang kurancang ituΩ‹, seketika seperti lorong waktu yang menghempasku sendiri entah dimana. Aku tak hanya kehilanganmu, aku kehilangan diriku sendiri.

***
Hanya betapa rasa sakit merindumu itu, seperti perasaan hidup yang tak benar-benar hidup, seperti mati yang tak benar-benar mati

Iklan

4 pemikiran pada ““Don’t Leave Me…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s