Mencintaimu, tak dicintaimu

Pernah aku mengatakan pada diriku sendiri pun tak langsung kepadamu di banyak linimasaku, bahwa bila nanti hal yang ingin ku dengar darimu, sesuatu yang aku ulur-ulur tak ku pertanyakan padamu pada akhirnya harus ku dengarkan. Aku percaya, aku akan siap dengan segala jawaban yang bahkan musykil oleh inginku. Namun hari itu, ketika telah sejelas-jelasnya kau urai semuanya padaku, kenyataan yang kulihat, aku nyaris hilang dengan segala ketakwarasanku — hatiku, menutup matanya pada kebenaran itu, tak dicintaimu.

Hari itu segalanya menjadi kosong, pena-ku pun jua patah. Tidak, aku bahkan tak mampu menuliskan semua isi di hati dan kepalaku. Tanganku menjadi gagap, mempertanyakan. Akan apa lagi kata yang bisa ku tutur? ketika aku harus mengingat semua kesah dan keluhku di sini hanyalah khayalan yang ku skenariokan sendiri. Seolah ku menulis kepada kekasihku sendiri, mengeluh padanya, marah padanya dan mempersalahkannya atas segala lukaku. Yang nyatanya kau adalah lelaki yang berjuang di banyak tahun berlalu ini, hanya untuk menyenangkan hati perempuan rapuh ini — perempuan yang mencintaimu dengan ego

Maka sungguh, selain luka karena tak dicintaimu. Kini, betapa malunya aku padamu. Bagaimana mungkin kepalaku memikirkan semua fakta yang ternyata berbalik dari imajiku? Ah, iya, betapa bodohnya aku, pun mana mungkin kau akan mencintaiku. Aku? Bagaimana cinta itu membutakan mataku, tak bisa melihat diriku sendiri? Betapa lucunya bukan? Dan hal bodoh yang kulakukan selanjutnya, adalah memohon padamu untuk hidup bersamaku? Oh, mengapa kepalaku begitu bodoh mencerna penjelasanmu, menarik simpul. Bahwa bahkan 5 tahun tak cukup untukmu merasa nyaman menganggapku sebagai kekasih?

Dan inilah, tak ada alasan aku tak merasa malu, bahkan untuk menyapamu. Aku merasa seperti orang gila yang menentang rindu, bahkan ketika seluruhku meminta diriku sendiri menuntas rindu, ketika laju rindu yang tak mengampuniku membuatku menderai airmata disendiriku. Aku begitu terluka sedemikian, namun aku terlalu malu menyapamu.

Mungkin benar, kaulah lelaki yang tak beruntung itu. Menggambil banyak waktu demi menyenangkanku dan harus rela menutup-nutupi rasa tak nyaman sebagai kekasihku. Dan sekalinya aku tahu kau lebih nyaman bersamaku sebagai sahabat, aku justru tak mampu penuhi pintamu – seharipun, sekalipun.

Aku ingin kau membaca ini, entah kapan di suatu saat nanti. Kalau-kalau tanpa sengaja pencarian membawamu kesini.

Dan sungguh aku meminta maaf, karena mengira selama ini engkau tak cukup peka dan hanya berpura-pura tak peka. Aku tak pernah memperkirakan dalam dugaku bahwa ada hal semacam ini, seseorang mengorbankan kenyamanan hanya demi perempuan penyedih sepertiku. inipun membuatku begitu malu, sebab apa yang ku pikir tentangmu ternyata justru itu adalah diriku.

Maaf jua, tak bisa memenuhi pintamu untuk menjadi sekedar sahabat saja. Dibanding menjadi sahabat kadang kufikir tak menjadi siapa-siapa bagimu itu lebih baik untukku, maka ketika kau menyapaku sekedar tak memutus silaturahim, agar tak terluka banyak dan agar aku tak menjadi perempuan jahat yang berpura-pura mengabai sapamu. Aku hanya merancang skenario lagi di kepalaku – ku tulis kau sebagai kekasih yang hanya sedang tak tahu bahwa aku mencintaimu. Karena itu, meski hatiku menentang ini, aku berharap kau tak pernah menyapaku, agar — lagi — kepalaku tak berangan terlalu tinggi. Sebab kau tahu? Setiap kali kau menyapaku, harapan yang ku tumbuhkan itu, semakin menjadi-jadi. Dan selalu, harapan sedemikian itu, melukaiku teramat sangat ketika kusadari kenyataan tak lagi seperti anganku. Aku punguk, perindu bulan. Aku perempuan, yang sepanjang apapun waktu, mencoba dicintainya tak bisa juga dicintai.

***
Kita hanya dua manusia yang sama-sama menuju rasa nyaman. Namun jalan masing-masing kita, justru saling berbalik. Perjalanan yang saling memunggungi.

Menjadi sekedar teman? Menjadi kekasih? — Perihal tak dicintai, perihal dicintai :)

Manjadi sekedar teman? Bilalah nyatanya aku mencintaimu sebagai kekasih? Menjadi seorang kekasih? Bilalah bahkan kau tak temukan rasa nyaman menjadi kekasihku?

Ah mungkin inilah takdirku, mencintai seperti ini :’)

[SEKACAU APA YANG ADA DI KEPALA, SAMPAI TULISAN IKUT SEKACAU INI? :'(]

Iklan

3 pemikiran pada “Mencintaimu, tak dicintaimu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s