Menjumpa Ranah

Ku ingin lagi datang menitip beberapa garis tulisan yang mungkin bisa juga di sebut “keluh”, meski sebenar-benarnya di beberapa waktu ini aku sedikit canggung untuk berada di sini pun pikiranku kelu untuk sekedar menulis dua tiga kata. Iya, semua itu tentu bersebab.

Mungkin ada yang sedikit risih, pun bisa jadi tak suka dengan tulisan-tulisanku. Aku menyadari itu, bagaimanapun hampir sebagaian besarnya hanya berupa “keluh” saja. Untuk itu maaf :’). Namun pertama kali membuat blog ini (catatanhatirianaadzkya username asli) di akhir 2010 memang bermaksudkan menjadi ruang menuliskan isi hatiku, saat itu adalah di mana aku tak tahu, ada kekacauan apa di dalam hatiku, ketika hatiku senyatanya jatuh pada hati seseorang dan aku tak tahu bagaimana aku harus berdiri dari jatuhku. Untuknya ruang ini menjadi pilihanku, dari sini akupun belajar menulis dan menuang kesedihan dan duga-dugaku — sekedar mencoba melarik-kan alur waktu, agar di kelak aku tahu dulu aku pernah salah ataupun telah benar.

Tahukah, menulis seperti ini, seumpama menulis sepi di dalam ramai. Semua orang bisa membaca tanpa perlu tahu siapakah yang sedang berkeluh, pun kau bisa meluap segala kisah tanpa canggung, menulis dan hanya menulis, berharap sakit akan baik-bak saja. Jika di sini ku banyak berkeluh, maka tak mengapa padaku berkeluhlah di jendela ruangku. :’)

Lantas saat ruang ini tak lagi di dimensiku saja, ketika akhirnya pemeran utama di hampir semua tulisanku tlah menjadi saksi senyata siapa perempuan di ruang ini. Betapa tahukah? semua percakapanku, semua amarahku, semua sesalku, semua keluhku, semua dugaku, dan semua yang ada di sini, ah tidak tapi semua yang di hatiku seolah kutumpahkan sekali waktu di hadapannya. Aku sungguh, bila saja mungkin seketika itu inginku menghilang dari diriku sendiri — Malu? Ya :’)

Maka tentang itu, jika aku menulis di ruang ini takkan ada bedanya bahwa aku sedang berkeluh padanya langsung, bukan? Pun saat ku tutur segala rasaku, menulisnya kali berulang, menulis janji-janjiku, semudah segampang typing saja sebab terasa dia berada di hadapanku — aku, maka apa bedanya dengan seorang yang banyak omong saja? — aku seperti perempuan pengumbar kata…

Dan hal itu — musabab yang membuatku kelu menulis kata;
Adalah setelah dia tahu, aku menyadari dia mengetahui ini adalah aku..
Apakah dia masih mempercayai segala yang ku tutur tak sekedar kekata belaka?
Ah, apakah dia mempercayaiku? :’)

Bahkan ketika mudahnya ku tulis “Aku mencintaimu”, apakah dia akan percaya bahwa tepat di saat itu ada pedih di jantungku? Pedih rindu?

***
Ruang ini, perpadu perihal dia dan doa-doaku -:

Iklan

3 pemikiran pada “Menjumpa Ranah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s