Masih di Sana

“Mus, akankah kamu masih di sana?”
Malam semakin melarut, mencipta perulangan-perulangan rindu. Lalu hal baik apa yang bisa menutupi jelaga sesak di hatiku? Menangiskah?Mus, bukankah kau mengatakan, menangis menandakan betapa aku akan menjadi perempuan lemah? Tapi apatah, malam walau tanpa hujan, selalu mengiringku, merintik hujan di mataku.
Yaa aku fikir, akan mampu menabahkan hatiku. Agar di suatu hari nanti aku akan menjadi perempuanmu yang penyabar. Karena sejujurnya kerap kali ingin ku tanyakan hal ini padamu, bahwa benarkah kau akan datang padaku, menuntas rinduku?” – Tanya yang seperti memghakimimu bukan? – Jika kau tak suka, mari berpura-pura aku tak pernah menulis tanya ini.
Hal yang ku cemaskan dari segala tanya yang ingin ku tutur adalah – bahwa sekali lagi kau akan memutuskan meninggalkanku..
Maka setelah membaca ini, membaca tanyaku. Akankah kamu masih di sana?
***
Maaf bila di banyak malammu, aku memintamu ada. Semoga kau mengerti, cinta adalah perkara ‘bersama’ – pun pada percakap-percakapan sederhana :’)

Iklan

Satu pemikiran pada “Masih di Sana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s