Rinai Di Malam Juni

Mungkin ilusiku saja, atau aku masih terbawa mimpi dalam tidurku.  Sebab entah, telah berapa malam ku temui hujan merinai menderai di bulan Juni ini. Mungkinkah tabah itu, tak lagi setabah dulu?

Menabahkan rindu dalam rahasia? Bagaimana? bahkan hujan memilih caranya, datang di tiap malam hanya menyampaikan rindunya pada pohon bunga itu. Meski bila pagi datang, pohon bunga tak pernah tahu, semalam hujan telah rinai menitikkan rindunya.

Dan kali ini, apakah bedanya aku dan hujan bulan juni? Aku telah berulang-ulang menabahkan rinduku yang lalu pada akhirnya menitik mewujud derai air mata. Iya, aku tak mampu menabahkan rinduku, yang berkali-kali dan tak henti akhirnya ku tulismu dalam doa pun aksara.

Dalam ketaktabahanku ini, dengan segala yang ku lafal dan ku tulis, serta ketak mampuan ku lagi mengatakannya dengan langsung, yang walau tak pasti kau tahu, walau tak lagi sempat matamu menjamah kataku, dan walau letih kau untuk sekedar tahu, aku hanya ingin mengatakan; betapa aku tak memiliki ketabahan merahasiakan rinduku. Aku ingin terus mengatakannya.

***

Bilakah luang waktumu, bacalah tentang rindu ini. Jika tlah kau baca, apakah yang ingin kau lakukan? Jika boleh meminta tentang begitu egoisnya rinduku, ku mohon tuntaskanlah rinduku.

Tentang pintaku — Apa yang ingin tertuntaskan, tak selalu harus seperti mau-ku. Hanya saja segeralah menuntaskannya. Sungguh betapapun akan manis atau pahit, kau akan menemukan bahwa aku akan menelannya :’)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s