Bacalah, itu kamu —

Kutulis lalu sebisaku tak membacanya lagi. Adalah hal yang kulakukan semenjak dunia yang kukira milikku sendiri, ternyata juga berada dimensimu. Sungguh andai aku di hadapanmu saat itu, saat kau mengatakan ruang ini tertangkap olehmu mungkin aku akan berlari sejauh ku bisa atau jika tidak, aku berharap bisa menghilang seketika itu. Beruntung kita tertabir jarak, hingga membuatku bisa tersipu sendiri di balik layar, malu — sungguh.
Semenjak itu, sering juga disuatu waktu aku tertawa menahan sipu, mengingat-ingat apa yang pernah aku tuliskan. Iya, mungkin mudah saja membuka lalu membacanya kembali, tapi tidak, sebab bahkan dibaris 3 atau 4 secepat kilat kupejam mata lalu memeluk gedgetku, tak kuasa membacanya. Ah padahal aku sendiri penasaran dengan ingatan-ingatan yang pernah tertulis itu — bodoh, dan terkesan gila bukan? *abaikanjikatakberlogika :p
Namun tak ku pungkiri, aku bahagia kau telah membacanya. Entah kau sadari atau tidak, kaulah yang tertulis di sana. Kadang aku ingin bertanya padamu, adakah banyak hal salah yang tertulis di sana? Ada jugakah banyak duga salah? Atau terlampau berlebih? Atau jika tidak, adakah hal yang tak kau sukai? Atau bisa jadi melukaimu? — namun tanya itu tertahan oleh satu tanya pula, apakah kamu tahu di sana yang tertulis adalah kamu? Terlepas dari segala tanyaku. Sekali lagi, aku sejujurnya bahagia kau membacanya, membaca hatiku. Hanya saja, setelah itu terasa sulit menulismu, serasa seperti ber-presentase di hadapan jutaan orang. Kau tahu? Itu membuatku gugup.
Tapi sudahlah, bukankah ini mau-ku. Jika benar aku ingin kau tahu, seharusnya aku menuliskannya lagi — bukan? Sebab jika harus mengatakannya — langsung dan mengetiknya di percakapan kita, itu akan lebih sulit bagiku (tentang ini, jelas kita tahu, bahwa — cinta dapat membuat sesuatu yang -bising bisa sedemikian begitu -kelu). Maka di sini, setidaknya kau bisa membaca hatiku. Tanpa setidaknya typing tangis, kecewa dan sedihku tak tertulis sebagai “hahahaahah” lagi :’)

Lalu di sana apa kabarmu? apakah kau masih membacaku, membaca tentangmu di duniaku? Oh iya, bukankah sudah beberapa waktu ini aku tak menulis di sini, pun jika iya, toh selalu saja berakhir di draft, apa yang akan kau baca?

Tapi apakah mungkin kau masih membacaku?

***

Iklan

6 pemikiran pada “Bacalah, itu kamu —

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s