Sahabat dan Waktu #5

“Dan mungkin benar, kini saatnya kepompong itu merubah kita menjadi kupu-kupu. Membuat kita masing-masing terbang di arah yang berbeda – kalaupun iya, kuberharap kita akan menjadi indah bagi sekeliling kita”

♥♥♥

Apa kabarmu perempuan yang kurindukan? Kuharap selalu baik, tentu dan harus seperti itu. Ingin sekali ku katakan ini “maaf, untuk tak bisaku menjadi sahabat yang memahamimu”. Benar, kusadari gengam tangan kita beberapa waktu lalu sedikit meregang, aku pun tahu ada kegugupan dan kekakuan tiap kali kita saling sapa. Aku tahu kau tak inginkan itu, karena aku sama tak ingininya. Tapi sebuah fakta, tentang tatap mata yang akan meleburkan kekakuan tak berlaku untuk kita, hanya karena sebuah alasan — jarak.

Dan maaf juga untukku, yang selalu menganggap semua baik-baik saja, seolah tak ada yang terjadi. Karena maaf bagiku tak pernah ada masalah kecuali kini waktu memisahkan kita. Maka untuk semua kesalahfahaman yang terjadi bagiku bukan apa-apa selain bumbu-bumbu kisah persahabatan kita.
Maaf sungguh ku maaf, aku tak bisa berbicara serius lebih seperti mau mu, mungkin banyak yang terfikir dalam benakku. Namun bibirku tak cukup pintar menuturnya, maaf tak bisa membujukmu seperti maumu, hingga jika acap kali kau hanya bisa mendengar leluconku, lagi-lagi maaf sekedar itulah caraku mencairkan kebekuan kita…

Duhai perempuan yang begitu tertutup, tapi teramat ingin kami fahami. Maaf sungguh maaf, jika sikapku pun kami telah dengan keji melukai perasaanmu, tak mampu memahamimu. Sejak dulu aku sedikit bisa membaca gerik seseorang, tapi kamu tak sama, kau terlalu tiada untuk harus ku dan kami fahami. Untuk itu sedikit saja, bicaralah setidaknya melalui matamu. Berhentilah menyembunyikan semuanya sendirian, jika kenyataanya di hatimu, kau ingin kami tahu — tak masalah kau ingin bagaimana dan seperti apa, hanya saja berbaliklah dan melihat bahwa kami selalu di belakangmu. Akan mendukungmu, bukan menjatuhkanmu —

♥♥♥

Terimakasih telah meruntuhkan sesuatu yang tak bernama di hatimu demi untuk menyapaku — terimakasih akhirnya sedikit berbicara padaku, pada kami. Entah, walau bagaimanapun kau sembunyikan rasamu, kita saling tahu, bahwa kita saling merindu….

Di sana –semoga bentang jarak tak menjadi alasan semakin membentang jauh hati kita.

Iklan

Satu pemikiran pada “Sahabat dan Waktu #5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s