Sahabat dan Waktu #4

Suasana hatiku tak nyaman saat menulis ini, mungkin itu semacam perasaan sedih mungkin juga rasa sakit entah bahkan aku tak bisa membedakannya. ingin kuterka kalau kalau itu hanya sedikit kekesalan atau bisa jadi malah rasa bersalah pun aku sama sekali tak bisa merabanya . Semakin ku menebaknya semakin aku terkurung dalam sempitnya tanyaku. Hmm lantas perasaan seperti apa itu? pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi peran antagonis? mungkin perasaan-perasaan yang dimilikinyalah yang kini kurasakan, menahan luka demi ego!

Demi Pemilik kita, haii janganlah membuatku merasa terlalu kejam untukmu, untuk suatu hal yang aku sendiri tidak memahaminya. Seolah segala yang kau putuskan semua karenaku. Lukamu dan sakitmu juga karenaku. Aku tak pernah berfikir apapun tentang segala sakit ini, hingga ketika hari ini kudengarkan kenyataan itu. Kau tahu? aku seketika menjadi begitu jahat padamu, ahh mengapa kau setega itu membuatku selolah aku telah menamparmu berulang2? Kau menyebabkanku terlihat seperti orang paling tak berperasaan. Tapi sudahlah, mungkin aku tak peka dan terlalu bodoh melihat kepura-puraanmu.

Lucu, semua tentang hubungan. Bahkan dalam persahabatan selalu saja menyangkut hal hal sensitif yang bisa menyakiti. Dan tentang kita, ia tentangmu sahabat, seasing apakah aku dimatamu hingga semua harus kudengar dari mulut orang lain? mengapa kau menutupi semuanya bahkan dalam segala keakraban yang tak pernah ku hentikan? Apakah kau tahu itu membuatku merasa bodoh dan jahat sekali? ahh tapi apa yang kau tahu sekarang? jarak raga tlah lampau jauh, mungkin hatimu pun. Tidak, aku tak menyalahkanmu, mungkin aku hanya terlalu mudah memaafkan salahmu di masa lalu, hingga ketika aku mencoba menganggapnya tak pernah terjadi kau malah membuat jarak, aku bisa apa saat itu? sudah kulakukan berbagai cara agar kau kembali melihat kearahku. Bodohnya kufikir kita telah baik-baik saja tapi pembicaraan dibelakang itu sungguh membuatku menjadi semakin antagonis padamu. Sekejam itu ku kah?

Ah dasar perempuan bodoh, tidakkah kau lihat betapa kau menyedihkan? sampai kapan kau memelihara keegoaanmu? ku mohon kasihanilah hatimu. Kau bahkan tak bisa membohongi perasaanmu, kau terlalu merindukanku, merindukan kami untuk harus membohongi semua kepura puraanmu.

Jika benar kita sahabat, seharusnya rinduku, rindu kami sampai kehatimu. Sesekali bunuhlah keegoaanmu. Cukuplah kau membuat jarak sebentang lautan, jangan buat jarak lagi di hatimu. Kami merindukanmu, kembalilah jikapun itu hanya hatimu.

Maaf jika aku, kami adalah alasanmu pergi sejauh itu, dan mengorbankan banyak hal di sini. Maaf, mungkin kita tak cukup bicara, untuk akhirnya saling meluka.

Iklan

3 pemikiran pada “Sahabat dan Waktu #4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s