Melupa — Antara Mudah dan Sulit

Bagaimana aku akan menakar-nakar atau memilah-milih sesuatu untuk ku selipkan dalam perjalanan hidupku, tanpa kelak melukai lagi? Dan bagaimana aku akan menimbang segala prediksi dalam pradugaku, jika kenyataannya cerita luka lebih dulu menabur di benakku ?

Pertanyaan ini cukup jelas, mengisyaratkan bahwa persoalan “melupakan” bukanlah hal yang sulit, sangat mudah malah. Hanya cukup mematahkan hati, dan membiarkannya terluka. Atau dengan cara meyakinkan dirimu bahwa cinta terbaik itu adalah cinta yang rela melepaskan. Itu saja, selesai! Sebuah kabar gembira untuk yang patah hati bukan? Sayangnya, perkara melupakan bukan hanya soal melumpuhkan ingatan atau meniadakan semua memori, bukan! Tapi ini perihal “mempercayai”, pernah mendengar salah satu defenisi mencintai? Iyapp! — Cinta itu adalah mempercayai –, sebagaimana cinta seorang abdi kepada Tuhannya yang bahkan tak pernah terlihat oleh indranya, atau contoh yang sedikit absrud ketika seseorang saling jatuh cinta hanya melalui perantara dunia maya. Semua itu hanya atas dasar -mempercayai- . Maka kembali ke soal melupakan, sesuatu yang sering ingin dilupakan adalah sesuatu yang sifat kepercayaannya telah terluka – semisal terkhianati atau ketika kenyataan tidak sesuai harapan. Mungkin benar akan mudah melupakan, menganggap semua tak pernah ada. Tetapi alam bawah sadar tahu betul bahwa kepercayaan telah terluka. Untuk semua itu, hal yang paling buruk yang mungkin terjadi adalah kau akan SULIT mempercayai, SULIT jatuh cinta — lagi.

Iklan

2 pemikiran pada “Melupa — Antara Mudah dan Sulit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s