Tertulis dari Mata Ibu

Apa yang akan di ceritakan oleh puisimu nak, ketika patah doamu pun begitu pilu menusuk sanubariku ?

Dan apa yang akan di lantunkan oleh syairmu nak, ketika tatih langkahmu pun begitu sakit menghentak sadarku?

Pun apa yang akan di dendangkan oleh nyanyianmu nak, ketika gelak tawamu pun begitu hambar meniadakan bahagiaku?

Putriku…
Untuk semua tanyaku, ku hanya bisa diam menepi di sini..
Kalau-kalau kau akan merengek padaku, atau berpura-pura marah padaku. Aku akan sangat bahagian dengan itu, sungguh!

Tapi duhai putriku…
Waktu begitu cepat membawamu di usia ini, pelan-pelan ia merebut masa kecilmu, merebutmu dariku.

Putriku…
Namun jika boleh ku meminta, kembalilah menjadi putri kecilku. Menangislah dalam dekapku, bila bagi dunia kau tlah dewasa maka bagiku, selamanya kau putri kecilku..

Putriku..
Jangan lagi berpura-pura bahagia. Jika sebenarnya kau sedang terluka. Naluriku bahkan lebih memahamimu dari yang kau tahu..

***
Tertulis dari mata ibuku..

Iklan

4 pemikiran pada “Tertulis dari Mata Ibu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s