Hatiku (bukan) Rumah Untukmu

Jauh sebelumnya, sebelum lingkar waktu menahan kita dalam ruang bernama cinta . Aku dengan begitu hati-hati tlah menyematkan ikrar di hatiku sendiri, jika lelaki yang ternyata adalah kau. Kelak akan menjadi penghuni terakhir di hatiku.

Namun pada janji mana yang tak teringkari, ketika dengan begitu rahimNya, Tuhan membuat skenario yang tak bisa ku gugat? Seketika janji, tak lagi bisa kupenuhi.

Jauh sebelumnya, sebelum rindu melingkup rasa di dalam dada kita, pada sebuah perasaan yang tak mampu kita terjemahkan. Aku dengan segala yakinku membangun rumah di dalam hatiku, kelak akan menjadi rumah tempatmu meneduh.

Namun seberapa mampu ku bertahan terus mengokohkan rumah di hatiku, ketika dengan begitu kuasaNya, Ilahi memberimu rumah yang ku tahu lebih baik dariku? Seketika ku tahu ku harus mengalah.

Jauh, jauh dari sebelum kau memilihku hari itu. Aku telah lebih dulu begitu percayaimu, tak ragu pun sebetik.

Jauh, jauh sebelum kau hadir menjadi nyataku dalam angan. Aku telah menjadi rumah yang selalu menunggumu, pada kedatanganmu pun pada ketiadaanmu

Namun duhai, sejauh apapun ku merancangnya dan menjaganya. Apa yang bukanlah milikku — akan pergi jua

***
Tentang menjadi ‘rumah’ bagimu, mengertikah?
Hanya rumah lah tempat sgala kau pulang –dalam sesatmu, dalam terangmu, dalam ragumu, dalam yakinmu, dalam sedihmu, dalam senangmu, dalam sakitmu, dalam sehatmu. Di sana selalu ada ruang untukmu, ruang-ruang yang bisa kau namai ‘cinta’. :)

PS: Cepatlah kembali — walau tak mungkin :)

Iklan

2 pemikiran pada “Hatiku (bukan) Rumah Untukmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s