Karena Aku (tidak) Cantik #1

Pada hakikatnya semua perempuan itu diciptakan cantik, tak terkecuali aku . Namun sayangnya hal itu tak jarang ku ingkari, bahkan terkadang aku merutuki diri hanya karena orang lain tak pernah mengatakan aku cantik — bahkan yang mengaku mencintaiku.
Benar, dalam penglihatan indra manusia aku memang bukan perempuan cantik. Aku sempurna, aku utuh tak kurang satu apapun. Tapi sekali lagi, aku tidak cantik.
Sebenarnya aku tak ingin menjelaskan tentang rupa-ku, hanya saja aku sedang bertanya-tanya. Apakah benar cinta itu menuntut akan keindahan paras? Kecantikan? Sebab jika benar, itu akan lebih baik bagiku. Setidaknya aku mafhum, mengapa seseorang akhirnya meninggalkanku.

Lama sekali, begitu lama aku menanam keyakinan di hatiku bahwa aku ini tidak begitu cantik, setidaknya itu yang ku saksikan ketika aku bercermin. Tapi Allah dengan begitu pengasihNya sering memberiku keajaiban-keajaiban yang luar biasa dari hal yang justru jarang aku syukuri. Tentang bagaimana memperlihatkanku siapa saja yang tulus mencintaiku, dan siapa saja yang bertahan berada di sisiku. Juga tentang pemahaman bahwa cantik itu tak hanya di rupa, tapi juga di sini — di hati.

Merasa tak cantik itu ku akui merampas satu sisi kebaikan dalam diriku — mempercayai. Iya perampasan itu, menggelapkan kepercayaanku, bahwa tak akan ada yang datang untuk mencintaiku lalu bertahan. Aku pun bahkan rapuh mempercayai prasangka baikku padaNYA tentang janji bernama jodoh. Dan jelaslah krisis kepercayaan diri dan sulitnya mempercayai menjadi bumerang yang titiknya kembali padaku, aku tak menemukan apapun kecuali kekecewaan.

Namun tidak ku nafikkan, cinta terkadang datang dengan ketulusannya, entah ku pinta atau tidak, tapi entah cinta yang datang tersering tak aku harapkan. Maka jika datang, tak pelak aku memilih menjauh. — jahat sekali

Memilih menjadi orang yang tidak memberikan harapan palsu kepada yang tidak aku cintai saat mereka memilihku, terkadang menjadi hal yang dilematis. Dan tahukah, yang membuatku tak ingin mencoba melangkah? Ia, hanya lagi-lagi tentang ‘mempercayai’. Tapi aku juga orang yang tahu diri, hingga ketika aku mencintai seseorang aku lebih terlihat lemah dan mudah mengalah. Jadi segala sikapku bukan semata karena tidak bersyukur ataupun bersikap sombong. Hanya saja aku tak ingin menyakiti diri sendiri apalagi orang lain.

Naif memang. Tapi tidak dipungkiri lelaki banyak jatuh cinta bermula dari mata. Maka aku fikir kekhawatiranku sedikit beralasan. :)

***
Duhai se-perempuan. Jangan memetik apapun dari yang ku tulis kecuali yang membaikkanmu…
Karena tentang kecantikan, sejak beribu tahun yang lalu telah disabdakan sendiri oleh nabiullah saw, bahwa sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk (rupa) kita tapi Allah melihat pada hati kita. Maka kembali lagi, sebenarnya kita ingin dilihat siapa? Allah ataukah manusia? ;)

ahh duhai para perempuan, cantik hati itu harusnya harga mati kita. Cantik paras? Ia hanya kerelatifan, bukan kemutlakan!

________________

ketika Riana Adzkya (sebut saja nama penaku, walau aku bukan penulis ;p) menulis tentang aku — di ahad pagi

Iklan

9 pemikiran pada “Karena Aku (tidak) Cantik #1

  1. Karena aku tidak cantik, aku sangat bersyukur karena itu aku akan menemukan cinta yang tulus, bukan cinta karena paras tapi karena hati yg dijaga kecantikannya,,

    Terimakasih mbak, indah sekali rangkaian katanya membuatku terhanyut

  2. Terkadang saya juga merasa tidak cantik. Sampai-sampai orang tua saya bilangbegini,: ‘kamu harusnya bersyukur sudah diberi ni’mat seperti ini oleh Allah’.
    Saya juga tau itu, tapi susah :’)

    Terima kasih, mba tulisan nya menginspirasi :’)

  3. Mbak, yg mbak tulis samaaa persis dgn apa yg aku rasakan bertahun2. Aku bercerai 8.5 th lalu dan terus menerus gagal mendapatkan pasangan hidup kembali karena aku tidak cantik…. Bahkan sampai detik ini aku selalu merasa perempuan terjelek di dunia. Ingin rasanya menghilangkan perasaan ini mbak :(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s