Sahabat dan Waktu #1

“Terkadang sahabat yang tak kau hiraukan, namun akan selalu menjadi pundak di kala kau rapuh, adalah mereka yang benar-benar tulus menyayangimu” -reeadz.

Hampir setahun, hari di mana saya saling dorong dengan salah satu teman ( teman yang akhirnya aku sebut sahabat ‘juga’) untuk memulai pembicaran dengan salah seorang teman lagi ( ini dia orang yang saya tujukan tulisan ini, aku juga menyebutnya sahabat). Hari itu kami ingin mengakhiri apa yang begitu mengganjal di hati, sebuah hubungan yang kaku dan begitu dinginn. Entah berawal dari mana kekakuan itu bermula, tapi saya hanya merasa tak nyaman dan begitu berkeharusan mengakhirinya. Dan ya, dengan segala usaha melawan ego, saya meminta maaf padanya (soalnya sumpahh, saya gak tau letak salah saya di mana? :'()
Di saat-saat itulah saya baru menyadari, dia adalah salah satu sahabat yang sangat memahamiku, yang benar-benar peduli padaku.
Sebut saja namanya “S”, aku mengenalnya di awal perkulihanku, tak ada yang istimewa darinya, kecuali tentu kebersahajaannya, yang akhirnya saya tahu itu terdidik dari tempat yang tak asing dariku. Heheh yaps, dia setanah ‘kampung’ denganku. And right, hal itulah yang membuat kami dekat. Lalu untuk apa saya menuliskan tentangnya? Iya, saya hanya ingin mengatakan dialah sahabat yang sungguh ada di sisiku bahkan di saat aku tak percaya pada siapapun, huum segala rahasiaku adapadanya. Dan kalian tahu, dialah teman yang tak tertulis di lembaran-lembaran memorial ku, entah di facebook atau media sosial lainnya. Dia tak pernah aku sebutkan. Tapi dia tak peduli, dia tetap ada di sisiku, ironisnya aku tak menyadarinya, hingga saat dia menjauh dariku. Ada apa? Yang sempat terlintas di mataku saat kupertanyakan hal itu adalah “Mengapa di saat kalian sulit, barulah mencariku? Di mana kalian saat aku begitu butuh, setidaknya kata ‘kuatlah’? Kalian ada di mana” — selanya dalam status.
And jlebbb, itu sesuatu yang menohok di jantungku, ia saya kemana selama ini? Di mana saat dia kehilangan orang yang paling dia sayangi (almarhumah rahimallah)? Di mana saya ketika ia membutuhkan pundakku, setelah sejuta kali ku sering datang meminta pundaknya? Ahh sahabat maafkan temanmu yang tak peka ini.
Di ruang ini, setelah sekali lagi ku berbagi luka karena patah hatiku tentang seseorang padanya. Sungguh ingin ku katakan, aku mencintaimu karena Allaah..
Terima kasih selama ini menjadi pundak terbaikku, ketika begitu malu melulu mengeluh pada Tuhan, dan ketika kelu lidahku bercerita pada ibu bapakku, pun ketika sungkan meluahkan pada kakakadikku.
Terima kasih, tak pernah menyalahkanku dari keluh kesahku, tak jenuh mendengarku walau saya begitu menyadari apa yang tertutur begitu menjemukan.
Dan maafkan, jika selama waktu yang terganti. Kau tak pernah ku sebut sahabat, maaf :’)
Hmmm ini bukan tentang my fika, my gankpasarbolu my riana, my gificas, my dcure, my lazier atawa my sunny.
Ini tentang kamu, perempuan sederhana, si pendengar setia my cu’me :p
(Heheh masih banyak lagi sahabat-sahabat yang mencintaiku lebih dan lebih dari yang saya tahu, lain kali ta’ posting dah :D. Lalu soal sahabat2 yang terikat oleh komunitas? Ah itu lain lagi, mereka juga sangat istimewa) that’s all, I just love the friendship :*

Persahabat dan Cinta, suatu hal yang tak dapat dipisahkan. Terima kasih sahabat-sahabatku, mengajariku cinta itu apa hingga kalian selalu mendukungku dalam cinta yang ku jalani, dan akhirnya tetap menguatkanku, bahkan ketika aku sedang patah.

*dear all salam persahabatan dariku :*

—-
Menulis ini, ketika Alhamdulillah saat bisa sahur bareng para calledaa my Sunny.. :*

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s