Cemburu yang kunamai Rindu…

Percakapan itu bermula dari sepenggal sajak yang bukan tak sengaja aku kutip..
“Lepas, lepaslah cemburu, sesudah itu abu. Selama aku dan kamu dekat. Tak masalah” ~ @rayapan

A: “Itu ku tujukan untukmu, dan tolong mengertilah untuk semua bahasa yang tertoreh di berandaku”
M: “Untukku? Tapi mengapa? Dari sisi mana ini di tujukan untukku”
A: *diam*
M: “Ini membahas cemburu, bukan?”
A: “Iya”
M: “tapi mengapa?”
A:“Bukankah jika tak ada cemburu dalam cinta, maka itu bukan cinta?”
M: “Iya, tapi bukankah sumber cemburu itu ada? Lalu, mengapa cemburu, sedang yang dicemburui tak melakukan apa-apa? Hmm atau ini yang disebut cemburu buta?”
*hening*
A: “iya, sepertinya aku memang cemburu buta. Atau mungkin karena bagiku cemburu itu hanyalah rindu yang kurang beruntung?”
M: “Hmmm, Cemburu? Rindu? Sepertinya aku kurang setuju jika cemburu disamakan dengan rindu, keduanya memiliki esensi yang berbeda”
A: “Tapi ia bisa menjadi sama, jika keadaan yang memaksa”
M: “Keadaan tak pernah memaksa, kitalah yang selalu memaksakannya dengan bahasa yang dibuat seolah-olah indah padahal berbeda esensi dan makna”
A: “Ehem, Tapi ini bukan soal kata, tapi ini soal perasaan”
M: “Terbawa perasaan hingga kata-kata ikut diubah, begitu?”
Aku: “Bukan terbawa perasaan, tapi bukankah dari rasalah segala kata itu tercipta?”

Entahlah, kita sedang berdebat kata ataukah sedang ingin membenarkan keyakinan. Ini semakin membuatku membenarkan bahwa menyampaikan perasaan lewat isyarat kata tak selamanya akan sampai dengan mulus ke hati yang dituju, karena isyarat tetaplah isyarat, dan bagaimanapun kata yang mewakili perasaan lebih sering tertangkap tak sama di setiap hati yang berbeda. Lucunya, kamu sedang asyik membahas kata, sedang aku sedang membahas perasaan. Hingga nampak membingungkan apakah sebuah kata itu sebuah perasaan ataukah sebuah perasaan itu sebuah kata..?
Lalu tentang sajak ini…
“Cemburu adalah rindu yang kurang beruntung”
Sajak yang akhirnya kujadikan alasan mengapa aku cemburu padamu, mencemburuimu yang tak melakukan apapun. Seperti katamu, “mengapa aku musti cemburu, padahal kamu tak melakukan apa-apa” Memang benar kamu tak melakukan apapun hingga menyebabkan seseorang harus cemburu, tapi tahukah kamu? Bagaimana aku menahan perihnya luka dari menyimpan rindu itu? Hingga hal-hal kecil yang terlihat wajar nampak menusuk di hatiku? Semua yang kamu lakukan nampak begitu ku awasi, membuatku kadang merasa cemburu yang tak masuk akal? Rindu ini seperti demam yang tinggi membuatku meracau tak jelas. Maka jelaskan padaku di mana letak kesalahan sajak itu? Bukankah ia hadir karena rinduku yang terabaikan? Dan bagaimana ia tak kusebut pengabaian ketika kepada mereka kau nampak bahagia tapi padaku? Pembicaraan kita selalu terasa kaku, datar dan terkesan menakutkan. Bagaimana ia tak kusebut pengabaian kehadiranku dihidupmu nyaris membutuhkanmu layaknya pengemis, tapi kamu apakah kamu membutuhkanku? Mengapa tak kau coba tanyakan pada hatimu, benarkah kamu membutuhkanku? Jika memang tidak mengapa kau tak menghentikanku untuk berharap banyak? Apakah aku harus lebih tinggi lagi agar kurasakan jatuh yang lebih sakit?
Jelaskan jelasnkan padaku.. agar akal sehatku bisa mengerti… :’)

-me-
Dalam Tanya, mengapa cemburu itu perlu

Iklan

10 pemikiran pada “Cemburu yang kunamai Rindu…

  1. Mungkin itulah hebatnya syair dalam sajak ataupun puisi, yang kadang sulit di eja. Namun apapun itu.., yang jelas sajak dan puisi mampu mewakili ungkapan jiwa bagi penulisnya.
    Salam..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s