Kamu dan Musim Penghujan

hujan

hujan

Hari ini langit masih merintikkan tetesan-tetesannya, dan lagi-lagi ia berhasil membawaku ke masa lalu itu, saat setiap pagi ku tuliskan puisi untukmu, mengirimnya via sms sembari melantunkan doa cinta tentang kita, Tak istimewa memang, sebab hanya itu yang bisa ku lakukan, karena selain jarak, waktu pun belum mengizinkanku menyuguhkan segelas teh kesukaanmu.
***
 
Sebuah kenangan tentang kita, rekaan cinta yang tak pernah bosan kurindui dikala hujan, bahkan kala aku terdiam dalam kebisingin di skelilingku, sebab rindu yang kurasai bahkan dapat menciptakan hujan di hatiku!
Ahh mengapa semua berwujud tetesan air! Aku benci, benci pada titiktitik hujan di langit dan di hatiku, aku benci pada resonansinya yang mengngulangkan slideslide masa yang tak mungkin kembali, aku benci pada derainya yang menciptakan rindu yang tak bertuan! Aku benci aku benci pada Hujan!
Kebencian ini terkadang membuatku menangis menyesali atas waktu yang mengenalkanku padamu di musim yang tak seharusnya musim penghujan. Meski dulu aku tak pernah membenci hujan, bahkan ketika aku harus telat di jam kuliahku atau kegiatan-kegitatan organisasiku, aku tetap mencintai hujan, hingga pada akhirnya aku mengenal arti sebuah pengabaiaan, arti sebuah ketersiasiaan, arti sebuah perpisahan, arti sebuah kepergian, arti sebuah ketiadaan yang kamu peruntukkan padaku!
***
 
Hujan makin menderai, air mataku tak ingin kalah mengucurkan sesak kerinduannya. Meski semalam kerinduan itu kamu sapa, aku tak yakin kamu merasakan betapa bahagianya aku meski hanya dengan segelintir percakapan sederhana kita.
Aku ragu, kau tahu ada tetesan haru di mataku, ketika kali ketiga ku tanyai kabarmu akhirnya kamu membalasnya, kamu tahu, itu seperti sebuah hadiah yang tak pernah ku sangka akan kudapatkankan. Kamu, ya kamu betapa istimewanyakah kau di hatiku, hingga aku lupa bagaimana menyanyikan nada hujan sebagai nada kebahagiaan, mengapa mesti derai luka yang kurasakan? Mengapa kau dan hujan menjadi begitu antagonis dalam langkah gontai cintaku?
Tak cukupkah jarak pada cinta kita sebagai sesuatu yang begitu berat, mengapa lantas kau buat sebuah jarak di hati kita?!
***
Ah pagi ini gunturpun ikut mengemuruhkan rasa di hatiku, menemani derasnya hujan yang seolah menertawakan keperihanku. Ku ingin cukupkan lukaku, dengan merelakanmu. Mungkin sebuah jarak telah melerai segalanya, ku memaklumi itu. Tapi jika aku bisa bertahan mengapa kamu tidak?
Padahal tak bosan di manapun ku slalu kuungkapkan rasaku, dalam doa, dalam tangis, dalam puisi, dalam diari, dalam kata, dalam ucapku. Tapi mengapa itu masih tak cukup membuatmu bertahan untukku.
Aku tak mengerti!
***

Atau benarkah kamu adalah seekor kupu-kupu?

Persembahan Cinta
Riana Adzkya :)

Iklan

49 pemikiran pada “Kamu dan Musim Penghujan

  1. Ping balik: Kupu-kupu untukku « Catatan Hatiku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s