Monolog Cinta…

Cinta“Masih basaah ingatanku tentang masa aku meyakinkan bahwa kau adalah pilihan hatiku. Meskipun jauh sebelum itu diam-diam aku tlah menganggumimu
Entah aku tak tahu jelas apa alasan ketertarikanku tuk mengangagumimu. Tapi seperti yang pernah kamu katakan, ada chemistry berbeda yang kau temukan didiriku, maka tahukah diawal perkenalan kita aku bahkan merasakan debaran yang berbeda di hatiku. Mungkin kamu tak percaya, tapi rekaan dan adegan awal perkenalan dan semua tentang kita begitu kuat terekam dalam memoriku. Dan tak ada alasan lain, selain CINTA lah penyebabnya.
Dulu aku berfikir cinta itu sekedar penyenang hati, sebagai mode dan sekelumit keharusan. Namun semuanya menjadi sesuatu yang tiba-tiba diluar dugaanku. Cinta tak sesederhana anggapanku namun tak serumit perkiraanku. Ambigu!
Saat ini mungkin hubungan kita seperti sebuah kaca es yang kapan saja bisa retak, salah-salah dengan seketika mungkin akan berakhir, tapi itu takkan terjadi jika aku tak pernah melakukan kecerobohan. Ironisnya ada sejuta penyebab yang kapan saja bisa membuatku ceroboh!
Tapi luar biasanya CINTA tetaplah lebih kuat dibanding jutaan alasan itu.
Yaa mengapa mesti karena kecerobohanku?
Karena aku dan kamu hidup dalam hubungan yang hening. Sayangnya kekanakanku menuntut agar semuanya dalam keramaian. Hingga akhirnya berbagai cara kulakukan untuk membuatmu tak sekedar terdiam.
Berbagai cara? Ahh mungkin tak nampak olehmu, karena aku lebih menyempaikannya lewat isyarat. Isyarat yang akhirnya terkadang menjadi kecerobahan yang membuatmu kecewa.
Duhai kamu..
Sungguh aku tak menuntut kita seperti sepasang kekasih yang berada di luar sana. Karena kusadari itu belum waktunya dan tak pernah ada aturan tentang hal itu. Tapi bukan berarti kamu mendiamiku seolah aku tak pernah ada. Membuatku slalu befikir di luar yang seharusnya. Ya akhir2 ini akupun ikut terdiam, bukan karena ingin terdiam sepertimu, menyapamu setiap hari bisa saja kulakukan, tapi entahlah kadang setelah menyapamu aku akan merasakan sakit karena terluka, hanya karena tak ku temui dirimu yang dulu. Padahal menjadi dirimu adalah hakmu, maka apa yang bisa kuperbuat? Hanya terdiam dengan sekelumit luka yang akhirnya kutorehkan di mana saja.
Sebenarnya aku slalu ingin mengeluh tentangmu, tentang semua sikapmu padaku.
Tapi tak usah bertanya “ada apa dengan dirimu” karena kamu lebih tahu jawabannya dan tak perlu kebingungan atas tuntutanku atas sikapmu, pun kamu tahu alasannya…
Aku tahu kamu lebih dewasa dariku, hingga maafkan jika kekanakkanakanku banyak minta padamu. Termasuk inginkan dirimu yang dulu.
Mungkin kamu merasa tak ada yang berubah, kamu tetap yang dulu.. Kepada siaapaa? Yaa mungkin kepada siapa saja, tapi tidak denganku. Kamu tlah berbeda..
Maaf jika akhirnya ku sebut ini sebagai caramu menjauhi, meski slalu ku hibur diriku bahwa ini hanyalah caramu menjagaku dari hubungan yang tak halal. Tapi sekeras apapun aku menghibur diriku, tetap saja semuanya tertepis! Bagaimana tidak? Karena kenyataannya aku merasa tak terjaga! Sikapmu malah membuatku ‘resah’ hingga hari2ku dipenuhi dengan kegalauan! Mungkin aku terlihat bahagia, ceria dan kuat. Tapi sungguh aku sesah, aku resah!
Sekali lagi aku tak menuntutmu agar kita menjadi sepasang kekasih seperti mereka diluar sana.
Karena pintaku sederhana saja, TUNAIKAN RINDUKU. Cintai aku dengan ketulusanmu, jika tidak, aku mohon pintalah agar aku pergi dari hidupmu. Tak perlu mengasihaniku dengan membalas cintaku. Karena aku akan baik-baik saja dengan caraku mencintaimu.
Mencintaimu tlah cukup menjadi penghapus kesedihanku, maka jangan khawatir dengan perasaanku.
Namun satu hal yang pasti, kamu hanya akan bermimpi jika aku yang akan pergi tanpa kamu pinta.. Karena bagaimana mungkin aku pergi, sedangkan cintaku tlah berhenti di ‘kamu’.
Yes, right ! I do love you.. :’)
Tak usah khawatir sekali lagi untuk pernyataan cintaku ini, karena sungguhh ini bukan sebuah permintaan belas kasih untuk balasan cintaku.
Jika ketiadaanku adalah kebahagiaanmu, maka takkan kau temui kecuali diriku yang redha merelakanmu. Maka mintalah, dan akan aku penuhi. Bahagiamu bahagiaku. :’)
 
P.S :
Mungkin akan terbesit bahwa aku seolah tak percaya akan cinta yang dulu kamu utarakan padaku, ketika dulu kamu membalas cintaku.
Jika berbicara tentang kepercayaan. Sungguh aku percaya kalau kamu pun mencintaiku seperti aku mencintaimu. Karena mana mungkin cinta di hatiku tumbuh semakin besar jika tak ada siraman cinta darimu? Bukankah tak ada cinta yang bertepuk sebelah tangan?
Dan tak mungkin kamu membiarkanku seperti ini, jika bukan karena kamupun merasakan hal yang sama. Tak melepaskanku namun tak juga mengikatku.
Lalu ku sebut apa kesahku selama ini? Jika bukan karena keraguan!
Ya aku memang ragu! Ya aku ragu!
Tetapi bukan padamu, aku ragu pada diriku sendiri.. Pantaskah aku untukmu?
Aku tak cukup baik untukmu.. :’)

 
With love
“Aku”
*ungkapan hatiku, yang mungkin takkan pernah terbaca olehmu*
Iklan

44 pemikiran pada “Monolog Cinta…

  1. Miris mbak kalau memang ini cerita nyata. Tapi kadang cinta bisa tumbuh dimana saja termasuk tanah kering kerontang.. tanpa penyejuk kerinduan. :)

    Semoga segera tertunaikan rindunya.. :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s