Cinta, Mendefenisilah..! Untukku!

Cinta HitamDi hening yang Sunyi… ‘Sepi’
Ahad ke-11 dari ketiadaanmu di akhir pekanku..
Huffh…Sebuah kebodohan bahwa aku masih menyimpanmu di hati..
Tapi sebuah kesalahan pula bahwa aku harus melupakanmu begitu saja..
Seperti inikah cinta itu..?
Tlah berulang kali kucoba mengikhlaskanmu…
Berulang kali hati kecilku mengatakan ‘tidak’
HATI KECILKU…? Benarkah hati kecil ku yang berkata?
Atau keinginan memilikilah yang menyebabkan ku tak pernah ridha?
Ah.. entahlah yang ku tahu…
Tak pernah lagi ku usik dirimu…
Aku mencoba menjauh, seperti apa yang kamu lakukan padaku..
Bukan.. bukan karena rasa sesalku atas sikap menjauhmu..
Namun ku sadari saat ini, menjauh itu adalah bahagiamu…
Maka tak ada yang bisa ku lakukan selain berdiam dalam bisuku…
Sayangnya…
Tak pernah ku sadari..
Rasa ini, sungguh sangat menoreh sakit di hatiku..
Mungkinkah memang cinta harusnya tak pernah meminta.. melainkan hanya memberi?
Memberi..memberi dan hanya memberi…?
Ah cintaa.. tak pernah ku fahamimu..*_*
Tak adakah defenisi tentangmu untukku..? huffh..
“Ya Rabb, Pemilik Cinta.. Dosaku kah? sedang tlah kucoba segala cara, agar hapuskan tentangnya..
Tlah ku coba menutup mataku, telingaku.. segala tentangnya..
Namun Duhai, bahkan doaku serasa kelu ketika memohon agar hapus namanya di hatiku..
adakah yang salah Rabb? Sedang dadaku semakin sesak mengenangnya, Perih.”
Teriring sebuah catatan CINTA..
-by.Anis Matta….
”Semoga Manfaat” untukmu, untuk mereka, untuknya, untukku dan untuk semua yang inginkan defenisi CINTA dari ketiadaan defenisi itu sendiri..

CINTA TANPA DEFENISI
Cinta. Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi dahsyat.
Cinta. Seperti banjir menderas menderas. Kau tak kuasa mencegahnya. Kau hanya bisa menganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutanya. Setelah itu ia kembali tenang. Seperti seekor harimau kenyang yang terlelap tenang. Demikianlah cinta. Ia ditakdirkan jadi makna paling santun yang menympan kekuasaan besar
Cinta. Seperti api menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Kau hanya bisa menari di sekitarnya saat ia mengunggun. Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi . atau meraung saat lidahnya melahap rumah-rumah, kota-kota, hutan-hutan. Dan seketika semua menjadi abu. Semua jadi tiada. Seperti itulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kekuatan angkara murka yang mengawal dan melindungi kebaikan.
Cinta adalah kata tanpa benda, nama untuk beragam perasaan, muara bagi ribuan makna, wakil dari sebuah kekuatan tak terkira. Ia jelas sejelas matahari.
Mungkin sebab itulah Eric Fromm dalam “The Art of Loving” tidak tertarik atau juga tidak snggup mendefenisikannya. Atau memang cinta sendiri yang tidak perlu di defenisikan bagi dirinya?.
Tapi juga terlalu rumit untuk disederhanakan. Tidak ada defenisi memang! Dalam agama, atau filsafat atau sastra atau psikologi. Tapi inilah obrolan manusia sepanjang masa. Inilah legenda yang tidak pernah selesai .
Maka abadilah Rabiah Al-Adawiyah, Rumi, Iqbal, Tagore atu Gibran karena puisi atau prosa cinta mereka. Abadilah legenda Rome dan Juliet, Laila Majnun, St Nurbaya atau Cindirella. Abadilah Taj Mahal karena kisah cinta dibalik kemegahannya.
Cinta adalah lukisan abadi dalam kanvas kesadaran manusia. Lukisan bukan defenisi. Ia disentuh sebagai suatu situasi manusiawi, dengan detil-detil nuansa yang begitu rumit. Tapi dengan pengaruh yang terlalu dahsyat. Cinta merajut semua emosi manusia dalam berbagai kehidupannya menjadi sublime; begitu agung tapi juga terlalu rumit. Perang berubah menjadi panorama kemanusiaan begitu cinta menyentuh para pelakunya. Revolusi tidak dikenang karena geloranya tapi karena cinta yang melahirkannya. Kekuasaan tampak lembut saat cinta masuk wilayah-wilayahnya. bahkan penderitaannya akibat kekecewaan kadang terasa manis karena cinta yang melatarinya: seperti Gibran yang kadang terasa menikmati Sayap-sayap Patah-Nya.
Kerumitan terletak pada antagoni-antagoninya. Tapi di situ puladaya tariknya tersembunyi. Kerumitan tersebar pada detil-detil nuansa emosinya, berpadu atau berbeda. Tapi pesonanya menyebar pada kerja dan pengaruhnya yang teramat dahsyat dalam kehidupan manusia.
Seperti ketika kita menyaksikan gemuruh badai, luapan banjir atau nyala api, seperti itulah cinta bekerja dalam kehidupan kita. Semua sifat dan cara kerja udara, api dan air juga terdapat dalam sifat dan cara kerja cinta. Kuat. Dahsyat. Lembut. Tak terlihat. Penuh haru biru. Padat makna. Sarat gairah. Dan antagonis.
Barangkali kita memang tidak perlu defenisi. Toh kita juga tidak butuh penjelasan untuk dapat merasakan terik matahari. Kita hanya perlu tahu cara kerjanya. Cara kerjanya itulah defenisinya; karena –kemudian- semua keajaiban terjawab di sana.

Sahabat tak pernah ku menyesal bahwa ku pernah jatuh cinta..
Penyesalanku adalah bahwa aku tak mengikhlaskannya bahagia dengan pilihannya..
Namun saat ini tlah ku coba belajar melerai luka ini dengan keikhlasan..
karena saat ini…
kuingin..
CINTA itu BUKAN bagaimana aku DICINTAI tapi bagaimana aku MENCINTAI…
Ah Cinta.. Saat ini, bisakah engkau mendefenisi untukku..?
Sebab ku tak ingin menjadi si Laila Majnun kedua.. *ada-ada aza.. ya gak lah! ;p

Salam Cinta
-Riana Adzkya-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s