Masih Tentangnya, Selalu ~

Dan dia benar-benar pergi, seperti cahaya yang masih saja dapat ditemui ujung mataku, dia pergi seperti aku hanya angin yang tak kasat berlalu dan bukan apa-apa. Kepergian itu tak mampu kucegah hanya dengan cintaku,  tapi mengapa kepergian seperti ini tak hanya mematahkan hatiku sepatah-patahnya, iya juga mematikan rasaku membuatku seperti tak bernafas. Sering sekali bahkan hatiku seperti ditindih batu besar menyesakkan sekali, dan jika bukan karena iman yang hanya setitik ini sungguh menjadi niscaya aku akan melampaui batas.

Dia telah jauh membelakangiku, kukejar semakin jauh saja, tak ku kejar alih-alih rindu akan sangat menyakitiku memaksaku memutar arah untuk mengejarnya. Namun sejauh apa ku berlari mengikuti jejaknya, terlihat semakin berpeluh dia beranjak menjauh. Aku tak bisa berbuat banyak, bahkan jika aku begitu percaya pada hatiku ~ dia masih mencintaiku

Kini hanya keyakinan dan patah-patah doa saja yang kumiliki – 

“Kumohon, biarkan ia berbaliklah padaku”

Menangisi Cinta

Semestinya, tak pernah boleh kesedihan memeluk cinta. Tapi kau tahu betul di semula aku mencintaimu tak habis-habisnya ku peluk sendiri luka dari perasaan yang tak bertuan ini.

Pasti menyenangkan menjadi kamu, melihatku mencintai semenyedihkan ini. 

Hingga akhirpun kau pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Seolah memintaku menyerah, tapi menginginkanku tak berhenti mencintaimu. Seolah melepasku demi kebahagian, tapi membiarkanku menangis karena merindukanmu.

Maukah memenuhi pintaku sekali ini saja? Ku mohon sekali saja, katakanlah bahwa kau tidak mencintaiku, sekali saja

Tidak, bukan ingin membuatmu terbebani karena tidak mencintaiku. Sungguh aku hanya ingin memberi pengertian pada hatiku bahwa kita memang hanyalah kemustahilan. Aku tak tahu apalagi yang harus aku lakukan, maka semoga engkau sekali ini saja ber-iba padaku.

Setelah itu, aku berjanji. Selama-lamanya aku takkan lagi hadir dalam hidup, aku berjanji takkan mengusikmu dan tak lagi perlu kau berusaha menghindariku

Tolonglah sekali ini saja, patahkanlah harapanku. Kumohon…

Karena sungguh pengabaianmu pada perempuan yang benar-benar mencintaimu ini, hanyalah seperti kau berpura-pura tak mendengar tapi tangisnya akan begitu jelas di hatimu

Ahh sebenarnya apa yang ku keluhkan ini, bukankah semesti ku berterimakasih, karena selama ini sejauh kau mencoba mencintaiku, setidaknya kau bisa mencintai satu hal dariku – air mataku?

Dan benar saja, selama kau menjauhki, air mata di mataku dan hatiku tak putus bergantian menangisi perasaanku

Aku (harus) Baik-baik saja

Aku mempercayaimu, maka jalan manapun yang kini kau tempuh. Aku yakin adalah hal yang baik, percayalah padaku untukmu aku akan baik-baik saja, bahkan jika aku tak bisa melakukannya aku akan memastikan aku akan nampak baik-baik saja di hadapanmu.

Tak perlu cemas jika sesekali aku datang mengoyahkanmu, itu hanyalah saat-saat di mana rindu benar menghimpit dadaku. Namun sungguh aku telah berusaha lebih keras menahan diriku. Jadi tetaplah seperti itu lihatlah aku sebagai bayang-bayang saja. Berhentilah berkorban hanya demi menjaga perasaanku, aku, meskipun telah banyak usaha kulakukan agar kau tinggal di hidupku, bagiku memilikimu tapi harus melelahkanmu itu akan lebih melukaiku.

Iya, pergilah dan tinggalkanlah semua beban itu dipundakku. Bukankah inilah saatnya aku yang berkorban? 

Bahagialah, cukup itu dan aku akan (harus) bahagia :’)

Bentang ini, Hatimu Hatiku

Maafkan aku, aku akan berusaha lebih keras lagi menahan diriku. Jangan pernah pedulikanku dan bahagialah, jika aku datang terus menerus dan itu mengusikmu. Lihatlah aku seperti debu saja, agar kau tak tahu aku selalu ada. 

Percayalah padaku, jika di dunia ada seseorang yang sangat menginginkan kebahagianmu. Dan jika ada seseorang yang benar-benar ingin tinggal di sisimu tanpa melukaimu. Percayalah itu aku.

Tetapi lihatlah kenyataan ini, seberapa besar kau tak menyukaiku. Sebesar apa kesalahanku yang membuatmu lebih dari membenciku – mengabaikanku? menjadikanku seperti seseorang yang jatuh dan tertimpa tangga pula. Tak bisa bahagiakanmu dan alih-alih membuatmu menjauhiku.

Namun percayalah terus ini, jika ada seseorang yang teramat menginginkan kau bahagia. Itu adalah aku, aku. Karenanya kumohon jangan lagi menjauhiku dan katakanlah sesuatu agar aku tahu bagaimana membahagiakanmu. Agar nanti luka apapun yang membuatku menangis aku akan tetap tersenyum. Aku akan bahagia, mengingat kebahagiaanmu

***

Aku sungguh-sungguh mencintaimu, hingga mungkin kau tak mempercayai jika ku katakan ini. Disemenjak perasaan ini tumbuh, di banyak tahun yang kita lalui, sekalipun tak pernah terbetik di dalam hatiku memalingkan hatiku darimu. Meskipun beberapa kali  kau pergi dariku, tapi seberapa besar pikiran bisa melupa sedang hati terus saja mengingat sepenuh-penuhnya. Maka entah bagaimana agar tak lagi  aku mengusik hidupmu? Cinta ini entah membutakanku atau tidak, tapi ia tetap saja membuatku yakin kau adalah kekasih sehidup sesurgaku :’) 

Beritahulah Padaku

Tidak ku pinta milikimu, sedang ku tahu diriku sendiri bukanlah milikku. Aku hanya selalu meminta kesabaran yang lebih, agar tidak menunjukkan perasaanku padamu. Tapi lihatlah, aku selalu menjadi orang yang kalah, berulang kali dan terus saja mengusikmu.

Aku, harus bagaimana mencintaimu? Tanpa mengusikmu, tanpa mengganggu hidupmu dan tanpa membuatmu tak nyaman?

Beritahulah padaku.

Beritahu padaku bagaimana bisa mencintai, tanpa memiliki?